Mengapa Orang Bisa Ngambek?

kakashi-big-lips.jpg
“Saya lagi ngambek alias marah … tauu!!! :x

Dulu Altair adalah seorang pemarah, tapi berkat spiritual training, kini Altair harus berupaya agar selalu bisa mengendalikan marah. Seorang Assassin harus selalu tenang, fokus, pikirannya terarah dan batinnya terkendali.

Seorang pejuang besar pernah mengayunkan pedangnya dengan gagah berani di medan pertempuran. Satu per satu, musuhnya tumbang saat berhadapan dengan pedangnnya yang bermata dua …

Akan tetapi, dia melakukannya bukan karena kemarahan. Bahkan saat itu, dia menatap ke arah langit dan memperhatikan posisi matahari. Dia sedang memperkirakan kapan waktu solat akan segera tiba …

Luar biasa bukan …!!! Itulah seorang warrior sejati … Itulah First Leader saya …

Kini dia sudah tiada … dan Altair harus merantau sebatang kara di kehidupan ini …

Semoga akhir perjuangan ini tidak sia-sia …

Derivasi marah ada banyak istilahnya. Ada marah yang tampak dan ada yang tidak tampak. Semua jenis marah bisa dikelompokkan ke beberapa istilah yang umum ini, seperti kesal, ngambek, dendam, benci, sumpek, stres, mengucilkan diri, obsesi, frustrasi… and so on

Seorang Guru Altair juga pernah mengajarkan bahwa marah disebabkan tiga hal utama, yaitu:

  1. Sifat sombong.
  2. Sifat Angkuh.
  3. Sifat mengecilkan orang lain atau merendahkan orang lain.

Saat dimarahi orang, sebaiknya jangan diladeni karena si pemarah hendak menularkan marahnya kepada pihak yang dimarahi. Jika sikap marah direspon, maka kitalah yang akan menjadi wadah bagi kemarahannya … itu namanya celaka…!!!

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitny.” (QS. 21: 87)

Marah identik dengan penyempitan dalam segala hal. Sikap marah, baik tampak ataupun tersembunyi, akan senantiasa menyempitkan kita. Pikiran kita akan sempit, hati kita akan sempit, rezeki kita akan sempit, pergaulan kta akan sempit, pekerjaan kita akan sempit, dan seterusnya.

So, there is no benefit or goodness in anger … remember that …!! Always …

Ada rumus untuk menundukkan amarah …

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS. 42: 37)

Marah bisa ditundukkan dengan memaafkan. Mengapa demikian?!

Karena maaf selalu identik dengan melapangkan dalam segala hal. Sikap memaafkan, baik tampak atau tersembunyi, akan senantiasa melapangkan kita. Semua akan lapang, pikiran lapang, dada/hati lapang, rezeki lapang, pergaulan, pekerjaan, dan seterusnya.

Heemm … masih kurang satu hal lagi … :?

The Password …

Segala sesuatu pasti ada kuncinya. Sifat-sifat kitapun demikian. Salah satu kunci itu adalah hati dan lisan manusia. Ada pengingat yang efektif untuk menundukkan amarah. Ini adalah obat dan dosisnya berbeda-beda.

Suplemen ini harus dibaca setiap hari minimal 40 kali sehari, dan dalam kondisi tertentu harus lebih banyak lagi. Biasakan membacanya dari hulu ke hilir karena demikianlah aturan Allah Swt atas alam…yakni, dari lubuk hati baru keluar di lisan … dan jangan pernah sebaliknya… karena itulah proses kerja racun…

Bacaan itu adalah …

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. 21: 87)

Alangkah indahnya kata-kata ini … !!

Kini Altair paham dan mau merantau lagi … karena masih banyak yang harus dipelajari di kehidupan ini…

Kemenangan hakiki itu bukan di awal seperti tindakan para pemarah …, tapi di akhir…

Those who cried first …, laugh last … :)

9 Tanggapan ke “Mengapa Orang Bisa Ngambek?”


  1. 1 secondprince Maret 9, 2008 pukul 6:32 pm

    Wah keren nih, saya habis marah-marah soale
    Hikmah yang bermanfaat :)

    Akan tetapi, dia melakukannya bukan karena kemarahan. Bahkan saat itu, dia menatap ke arah langit dan memperhatikan posisi matahari. Dia sedang memperkirakan kapan waktu solat akan segera tiba

    Saya tahu, atau lebih tepatnya saya mengira-ngira(alias sok tahu) Manusia Yang Mulia tentunya :)

  2. 2 hilda alexander Maret 13, 2008 pukul 11:00 am

    “Marah identik dengan penyempitan dalam segala hal. Sikap marah, baik tampak ataupun tersembunyi, akan senantiasa menyempitkan kita. Pikiran kita akan sempit, hati kita akan sempit, rezeki kita akan sempit, pergaulan kta akan sempit, pekerjaan kita akan sempit, dan seterusnya.”

    Bukankah dari sudut medis, menahan amarah akan menimbulkan potensi penyakit lebih parah? Dan bukankah marah itu manusiawi, berkaitan dengan masalah kejiwaan. Orang yang tidak memiliki amarah justru yang patut dipertanyakan. Jadi teringat acaranya Oprah Winfrey yang menayangkan anak kecil yang sama sekali tidak memiliki rasa sakit. Anak ini dengan ’serunya’ menggigit jari-jarinya hingga berdarah dan nyaris putus. Karena tidak merasakan sakit, ‘aktifitas’ itu terus dilakukan hingga kemudian diketahui orang tuanya.

    Mungkin ‘marah pada saat yang tepat’ lebih bijak dibanding marah setiap saat :)

  3. 3 Altaïr Maret 15, 2008 pukul 8:54 am

    @hilda alexander

    Bukankah dari sudut medis, menahan amarah akan menimbulkan potensi penyakit lebih parah?

    Heemm … dalam spiritual training, Altair diajarkan bahwa marah adalah lawan dari sikap sabar. Orang yang mudah marah, mustahil menjadi penyabar. Segala penyakit justru banyak muncul dari mengambil sikap marah, baik marah yang tampak maupun marah yang ditahan. Dia seolah tidak marah diluar, tapi justru marah di dalam.

    Dia tidak marah secara pisik, tapi justru marah secara batin. Meski sama dengan marah pisik, tapi jenis marah batin jauh lebih berbahaya dari marah pisik. Karena penyebabnya adalah tidak adanya keridhoan di hati.

    Untuk itu, penyakit medis atau kejiwaan muncul dari marah, baik yang tampak (secara pisik) maupun yang tidak tampak (secara batin), dan bukan karena bersikap sabar. Mengendalikan marah adalah mengambil posisi sabar seraya mengendalikan marahnya. Artinya, bukan marah itu malah disembunyikan secara batin.

    Intinya, sabar bukan berarti mentransfer marah ke dalam batin. Sebab, mentransfer marah (atau tidak menampakkannya) adalah identik dengan marah juga. Hanya saja, ia menyembunyikannya di batin.

    Sabar adalah lawan dari marah, bukan membatinkan marah. So, its two different things …

    Dan bukankah marah itu manusiawi, berkaitan dengan masalah kejiwaan.

    Secara potensial, manusia memiliki empat jenis kekuatan:

    Akal/ruh malakuti (potensi insaniah tertinggi)
    Khayal/al-wahm (potensi imajinasi)
    Hasrat/nafs al-amarah (potensi kehendak)
    Nafsu hewan/bahimah (potensi kebinatangan)

    Dalam ilmu kejiwaan, marah adalah potensi manusiawi. Ini keliru! Karena pada asalnya, marah adalah sisi potensi hayawani manusia. Marah adalah sikap binatang, karena ia mengakar dari nafsu yang rendah. Sedangkan sabar adalah potensi insani, karena hewan tidak dikaruniakan potensi sabar oleh Allah Swt.

    Untuk itu, fungsi akal adalah mengikat ketiga potensi yang berada di bawahnya.

    Orang yang tidak memiliki amarah justru yang patut dipertanyakan.

    Heem…pernyataan ini berbeda dengan yang dinyatakan Altair. Hilda telah mendikte tulisan Altair. Altair bilang tentang mengendalikan marah, dan bukan “tidak memiliki amarah”. Karena mengendalikan kuda dan tidak memiliki kuda adalah dua kondisi yang berbeda. Hilda salah mengerti dengan maksud tulisan Altair.

    Jadi teringat acaranya Oprah Winfrey yang menayangkan anak kecil yang sama sekali tidak memiliki rasa sakit. Anak ini dengan ’serunya’ menggigit jari-jarinya hingga berdarah dan nyaris putus.

    Ini juga kasus yang berbeda, karena jelas sekali bahwa penyakit anak itu muncul akibat kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Bahkan sangat mungkin anak itu terlalu sering dibentak, dimarahi dan dipukuli. Sehingga mengalami trauma yang sudah sulit disembuhkan disebabkan hilangnya kesadaran akliyah si anak. Anak itu adalah korban (akibat) dan bukan sebaliknya (sebab). Penyebabnya ada di pihak pengasuhnya.

    Kerusakan pada anak itu disebabkan salahnya metode pendidikan pihak orang tua/pengasuhnya. Semua anak (yang tidak cacat secara biologis) adalah suci. Demikianlah Master mendidik Altair dalam spiritual journey.

    Karena tidak merasakan sakit, ‘aktifitas’ itu terus dilakukan hingga kemudian diketahui orang tuanya.

    Acara Oprah bukan kajian spiritual atau medis, tapi hanya rating televisi dan mendaur ulang simpati komunitas saja. Jadi lebih baik Hilda jauhkan…

    Buktinya…berapa banyak anak seperti itu yang konon adalah akibat dari sikap marah yang tertahan dengan jumlah penderita stroke, hipertensi, jantung, dlsb akibat melampiaskan marah…?

    Satu kasus tidak mungkin digunakan untuk menjustifikasi jutaan kasus… Altair diajarkan untuk berpikir rasional dan tahapan ini sudah Altair lewati sebelumnya…

    First Leader pernah berbicara soal marah dan seingat Altair dia pernah berkata bahwa awal marah adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan.

    Mungkin ‘marah pada saat yang tepat’ lebih bijak dibanding marah setiap saat.

    Jadi, kebijakan Hilda adalah ‘gila/marah pada saat yang tepat’ lebih baik dari gila/marah setiap saat… :mrgreen:

    Hilda, ketahuilah bahwa manusia tidak mungkin marah setiap saat, karena marah tidak inheren pada diri manusia. Sedangkan yang inheren adalah sabar. Sifat negatif pada diri manusia senantiasa bersifat ledakan sesaat saja dan bukan setiap saat.

    Jika ini kebijakannya, maka solusi yang Hilda tawarkan adalah ‘meledak pada saat yang tepat’ lebih baik dari ‘meledak setiap saat’… Hilda, ketahuilah bahwa matahari pun tidak meledak setiap saat.

    Untuk itu, kebijakan yang benar adalah jauhilah sikap marah setiap saat. Dan jika ada saatnya Hilda ingin marah, maka tahanlah marah itu dengan menyadari bahwa marah tidak memberi solusi apapun dikehidupan ini.

    Di samping itu, keberadaan sikap sabar harus muncul saat amarah ingin menguasai kesabaran. Artinya, berhubung sikap marah tidak datang setiap saat, maka jika marah datang, namun kita tidak mau bersabar, lantas kapan sikap sabar mau dipraktekkan dikehidupan ini?

    Marah harus tunduk kepada sabar, agar sabar tidak tunduk kepada marah.

    Selamat berjuang …

    *ke Yerusalem*

  4. 4 hilda alexander Maret 15, 2008 pukul 4:36 pm

    whoaaaaa komprehensif banget….thanx sudah mencerahkan saya….kayak matahari yang ‘tidak setiap saat’ meledak :)

  5. 5 secondprince Maret 23, 2008 pukul 5:10 pm

    @hilda alexander

    Jadi teringat acaranya Oprah Winfrey yang menayangkan anak kecil yang sama sekali tidak memiliki rasa sakit. Anak ini dengan ’serunya’ menggigit jari-jarinya hingga berdarah dan nyaris putus. Karena tidak merasakan sakit, ‘aktifitas’ itu terus dilakukan hingga kemudian diketahui orang tuanya.

    hilda mungkin keliru karena yang begitu gak ada hubungan dengan marah, itu anak menderita Lesch Nyhan Syndrome :mrgreen:

    @Altair
    Altair berkata

    Mengendalikan marah adalah mengambil posisi sabar seraya mengendalikan marahnya. Artinya, bukan marah itu malah disembunyikan secara batin.

    Kenapa marah itu tidak sekalian saja dibumihanguskan?dikendalikan berarti marahnya tetap saja ada, jadi bunuh saja kudanya :mrgreen:
    *sadis mode on*
    Sama seperti

    Marah bisa ditundukkan dengan memaafkan. Mengapa demikian?!

    Mengapa ditundukkan? ditundukkan menjadi apa, bukannya itu maksudnya menghilangkan

    Altair coba melihat dari sudut pandang lain
    Ada rasa tertentu yang dimiliki oleh para pejuangpenegak kebenaran
    Jika melihat suatu kemungkaran dan kezaliman timbul kemarahan dalam diri. Jika melihat seorang Penganiaya timbul kemarahan seolah ingin membuat Penganiaya itu merasakan hal yang sama

    Sudut pandang lain, Manusia tidak sempurna
    ketika ia berdosa atau melakukan kesalahan atau ketika ia tidak mampu bertahan dalam kebenaran atau ketika ia terjatuh dalam kesalahan yang bisa jadi sekali-sekali atau berulang kali
    Ia marah kepada dirinya sendiri hingga terasa sempit hatinya tetapi ia tahu kemarahan itu adalah sinyal bahwa masih ada kebaikan dalam dirinya bahwa
    ia membenci kesalahan

    jadi Altair sekarang giliran secondprince yang harus diberi pencerahan :mrgreen:

  6. 6 Altaïr The Assassin Maret 24, 2008 pukul 5:02 am

    @ Secondprice

    Menurut Altair, tulisan Secondprince sudah mencerahkan dan melapangkan.

    Kata master, marah tidak bisa dihilangkan, karena tanpa marah, makna dan hikmah sabar pun tak bisa dipahami. Sebagaimana takkan ada istilah penunggang kuda tanpa kuda.

    Menundukkan marah bukan meniadakannya. Perumpamaan menundukkan marah ibarat menekan arang menjadi berlian.

    Penyesalan bukan kemarahan. Penyesalan adalah kesadaran, sedangkan kemarahan adalah seperti yang First Leader katakan: Diawali kegilaan dan diakhiri penyesalan. Padahal untuk menyesal yang dibutuhkan hanyalah kesadaran, bukan kemarahan.

    Teladan First Leader dalam menumpas kemungkaran tidak didasari kemarahan, tapi kesadaran. Sedangkan kesetimpalasan dalam membalas bersifat fitri/syar’i. Itulah mengapa syar’i sejalan dengan fitri.

    Menuju Nazaret… :mrgreen:

  7. 7 secondprince April 9, 2008 pukul 9:09 pm

    Sepertinya belum pulang dari Nazaret :mrgreen:

  8. 9 Altaïr The Assassin Mei 5, 2008 pukul 4:43 pm

    Pesan Lewat Merpati Pos:

    Start Message – sebentar lagi – stop – saya – stop – akan – stop – kembali – dari – stop – Nazaret – End Message …

    ;)


Tinggalkan Balasan




Hashshashin’s Clan


altair.jpg

Di era third milenium, dan di hari kelahiran third leader. Saya meresmikan diri menjadi Ideology Assassin.

Rahasia dan teka-teki dibalik ucapan Altaïr. Hanya yang membacanya yang akan tahu.

Silahkan membaca beberapa prakata Altaïr di bawah ini:

Selamat datang di blog saya. Silahkan masuk secara hormat. Di sini, semua orang dipersilahkan berekspresi sesuka hati mereka, mau setuju dengan saya atau tidak, maka itu bukan masalah. Sebagaimana saya pun demikian. Terima kasihicon_biggrin.gif

I Can See You Too!

iam.jpg

ideologyassassin

Seal of The Assassin




Target Assasinated

  • 4,651 Infidels

Previous Missions

Spy Detected

tracker