Makna-Makna QaTaR …
Pertama, makna Qatar dari segi kenegaraan…
Saya cukup yakin bahwa sebelum anda mengklik halaman ini, maka terbayang-bayang dalam pikiran anda soal sebuah negara yang bernama ‘Qatar‘…

“Yaa … Qatar adalah …”(Note: kalau mau tahu, silahkan baca penjelasannya di bawah ini satu per satu …)
- Sebuah negara kecil di dekat teluk persia yang dihuni oleh ras Arab.
- Sebuah kerajaan kecil yang kaya dengan minyak.
- Cadangan minyaknya diperkirakan sebesar 15 miliar barel… (Jadi kalau rata-rata harga minyak per barel sebesar USD 60, maka USD 60/barel dikalikan dengan 15.000.000.000 sama dengan buaanyaaak ceekaaaliii!!
- Sebuah monarki yang populasinya kurang dari satu juta orang, tapi pendapatan per kapitanya mencapai USD 29,000. So, jangan bandingkan dengan negara kita yang pendapatan per kapitanya–konon … menurut Mbah Wiki–adalah USD 1,800 … (Note: Nilai yang relatif kecil ini disebabkan oleh jumlah populasi negara kita yang besar … plus … jumlah ‘populasi’ koruptornya yang naujubilee…!)
- Negara yang menggunakan sistem pemerintahan monarki yang berasaskan “Islam”. Tapi pihak penguasa Qatar cukup moderat, sehingga kaum wanitanya bisa memiliki kebebasan yang lumayan di negara mereka… Paling tidak! better daripada negara tetangganya, seperti Saudi Arabia …
- Nama penguasanya adalah Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani … (Note: Dia bukan pakcik saya …
)
Walaupun demikian, QaTaR dari segi geografis ini tidak ada hubungannya dengan QaTaR yang ingin saya jelaskan…
:
Kedua, makna Qatar dari segi kebendaan berikut fungsinya…

“Benda ini biasanya ditulis qatar dengan huruf ‘q’ ataupun dengan huruf ‘k’.
Jadi tulis aja sesuka anda, asal konsisten key…”
Benda ini adalah pisau yang amat tajam dan saat ini … kemungkinan besar … sudah mendapat gelar ‘kebangsawanan’ baru dari Inggris menjadi cutter … dengan huruf ‘c‘ diawalnya.
Pada zaman dahulu kala, founding fathers yang membentuk klan Hashshashin, sering menggunakan senjata rahasia yang bernama qatar ini untuk membunuh mengasasinasi korban yang menjadi sasaran mereka.
Senjata rahasia ini biasanya disembunyikan di bagian bawah lengan kiri atau kanan. Tujuanya supaya memudahkan seorang assassin mengoperasikan senjata tersebut di momen yang tepat. Untuk itu, jari tengah para assassin terpaksa diputuskan, sehingga dijamin, pasti akan sulit untuk memberikan isyarat f*** y** dengan jari tengah mereka
… lho! betul kan?
Atau untuk … huusss! jangan ngawwuur, apalagi berpikir yang aneh-aneh!
Walaupun demikian, sekali lagi bahwa QaTaR dari segi kebendaan ini tidak ada hubungannya dengan QaTaR yang ingin saya jelaskan…
:
Ketiga, makna Qatar dari segi yang ingin dijelaskan Altaïr…
Makna QaTar yang ketiga, yakni yang saya ingin sampaikan dalam kesempatan ini, adalah suatu makna yang sebenarnya tidak berhubungan dengan aspek geografis maupun demografis. Ia juga tidak terkait dengan aspek material, fisik … or what so ever … tapi makna ini, lebih dikaitkan kepada aspek spiritual, jiwa, ruh, kesadaran, hati, qalbu, akal, atau segala yang menjadikan seorang manusia itu lebih manusiawi.
K ata ini (QaTaR)–yang secara kebetulan, juga memiliki nilai-nilai keberadaan obyektifnya di alam dunia–sebenarnya hanyalah singkatan yang saya buat sendiri. Kata QaTaR yang ingin saya maksudkan *menurut saya* adalah sebagai berikut:
- Kombinasi huruf q dan huruf a, dibaca Qa untuk menyingkat kata qana’ah.
- Kombinasi huruf t dan huruf a, dibaca Ta untuk menyingkat kata taubat.
- Dan, huruf r untuk menyingkat kata ridho.

“If you ever see my face, then you’ll die …”
Pertama-tama, salah satu keunikan dari pola hidup para assassin adalah, bahwa mereka tidak mau seluruh kehidupannya berlalu sia-sia. Untuk itu mereka menjalani hidup dengan suatu tujuan, dan seluruh potensi yang mereka miliki di dalam diri mereka dan di kehidupan ini, mereka curahkan agar pada akhirnya, mereka bisa mencapai tujuan tersebut.
Meskipun singkatan QaTaR … was made by Altaïr, tapi ketiga istilah itu sendiri, yakni qana’ah, taubat dan ridho adalah produk dari kontemplasi jiwa manusia dalam rangka mencari tujuan akhir kehidupan.
Sikap qana’ah atau merasa cukup bukanlah perjalanan dari pola pikir materialiasme kepada spiritualisme. Maksudnya ia bukan lompatan dari “alam kuantitas” ke “alam kualitas” seperti yang pernah dilolongkan oleh kaum materialis.
Sikap qana’ah bukan pula perjalanan dari “alam kualitas”–yakni menjadi spiritualis gara-gara masih jadi pengacara>pengangguran banyak acara…–menuju kepada “alam kuantitas”. Misalnya banyak wiridan atau rajin ke masjid, ke gereja, ke sinagog, ke kuil, ke candi, ke klenteng, biar cepat tajir!
Sikap seperti itu *… seey …* namanya bukan qana’ah, tapi kebetulan, memang benar-benar kismin.
Akan tetapi, sikap qana’ah atau merasa cukup yang sebenarnya adalah pada saat kita menyatakan bahwa cukuplah Allah dalam segala hal dan keadaan. Yakni cukuplah Tuhan sebagai Pemilik, Pengawas, Penjamin, Pemberi, Penyelamat, Pencabut, Pengayom … dan seterusnya bagi kita di kehidupan ini.
Untuk itu, sikap qana’ah adalah act of the soul dan bukan act of the mind … alih-alih … act of the body. Jiwa manusia yang tercerahkan dengan attitude ini akan:
- Melihat Wajah Allah kepada apapun yang mereka tatap, termasuk diri mereka sendiri.
- Berjalan dengan Kaki Allah kemanapun mereka melangkah.
- Memegang dengan Tangan Allah kepada apapun yang mereka ambil dan berikan.
- Bersatu dengan Kehendak Allah dimanapun mereka berada.
- Berbicara dengan Lisan Allah kepada segala yang ada.
- Mendengar dengan Telinga Allah kepada setiap suara.
Dengan demikian, sikap qana’ah adalah merasa cukup atas keberadaan Allah dan bukan hanya merasa cukup oleh pemberianNya saja. Untuk jenis yang terakhir, terutama buat si kaya, kondisi itupun biasanya baru berlaku bila harta duniawinya sudah em-eman. Sedangkan untuk si miskin, maka dia akan merasa cukup karena harus terpaksa berlagak cukup. Sebab, dia harus berapologi dengan menunggangi sikap ini, terutama atas keterpurukan aspek finansialnya… yaa.. wong namanya juga sudah tidak punya, trus … mau diapaken lagi… yaa terpaksa bilang cukup deh!
Kaaciaaan de lho …
Para assasin jiwa-jiwa yang kotor adalah orang-orang yang harus mampu menyatakan–dengan lidah batin mereka bahwa–cukuplah dengan keberadaan Tuhan itu sendiri. Sebab, mereka harus terbenam kepada Si Pemberi daripada pemberianNya, Si Baik daripada kebaikanNya, Si Aman daripada keamananNya, Si Kasih daripada kasih sayangNya… got it!
So, next time yu atau ay merasa cukup … maka sebaiknya hal itu kita tanyakan lagi … yakni, apakah kita merasa cukup, semata-mata karena sudah memiliki? Ataukah berhubung belum tercapainya keinginan? Artinya, yang pertama mengatakan alhamdulillah karena sudah kenyang, lalu melalui ucapannya itu dia berharap agar ditambah … tambah … tambah … tambahkan lagi dengan kenikmatan serupa atau lebih. Sedangkan lainnya mengucapkan alhamdulillah, biar dibilang bersyukur dan berharap mendapatkan bonus tambahan paket nikmat…
Old boy…! Kedua sikap di atas bukanlah qana’ah… karena sikap yang pertama bukan qana’ah karena dia memang sudah sewajarnya demikian. Dan sikap yang kedua juga bukan qana’ah karena dia memang terpaksa harus begitu …
What so ever … I’m not perfect, so … the rule also applied to my explanations.
But eventually, is not in or within the detail of the explanations that make us feel enough… but how we understand “who can make us feel enough?“… go’ it.
Stop right there old chap! I know what you’re thinking … beautiful old girls for the old boys, or handsom old boys for the old girls right?

Gotcha…!
“I’m gonna level with you … Yes! Its true that girls/boys relationship can sometimes make you feel enough. True! Just like diamonds, money, mansions, cars, bikes, yacth, video games, drugs, sex toys, bloging, etc.
I mean … it works sometime, but mostly not everytime … ![]()
God is enough … compadre! Viva Assassin
*Berteriak* Neeext!
Heeemmm … *One down, two to go* … Sikap merasa cukup dalam kehidupan bisa menggugah kesadaran atas lemahnya diri kita. Iya beneran! Buktinya kita tidak mampu konsisten untuk memanusiakan diri kita sendiri. Terkadang, ketidakmampuan ini sering kita tutup-tutupi melalui bentuk fisik kita sebagai homo sapiens, yang kemudian kita lebelkan sebagai “hakekat manusia” …
Kalimat “kita adalah manusia …” merupakan pernyataan grosiran yang sering berbusa dari lubang kedua teratas/terbesar di bagian depan tubuh setelah hidung. Saking seringnya kalimat ini terbuang sia-sia tanpa makna, maka ia tak ubahnya mirip seperti benda yang dieksresikan melalui lobang kedua terbawah/terbesar di bagian belakang tubuh manusia.
*Anda tahukan benda apa yang saya maksud*
Kita sering menyuarakan bahwa manusia itu adalah makhluk hidup yang bertangan, berkepala, bermata, bertelinga, berkulit, bersuara, berkembang biak, berkaki, berotak, berotot, berejakulasi … Lantas, apa bedanya kita dengan hewan? Bukankah binatang juga memiliki ciri-ciri “kemanusiaan” fisik manusia tersebut di atas?

Manusia yang tidak memahami kesiapaan dirinya dan hanya mengetahui keapaan dirinya saja, menurut saya tidak layak dipanggil manusia…
Hal utama yang membedakan seorang manusia dengan binatang adalah: manusia memahami konsep keteraturan/hukum, ketertiban, nilai-nlai kebaikan dan keburukan, kasih sayang, dan yang utama bahwa dia memiliki kesadaran jiwa.
Secara fisik, kita memang terbedakan dari hewan, tapi ciri-ciri fisik bukanlah aspek fundamental yang membedakan kita dari binatang, karena beberapa ciri yang yang ada pada kita juga ada di beberapa hewan lainnya. Untuk itu, manusia terbedakan karena dia memiliki akal. Akal disini jangan diidentikkan dengan substansi lembek yang mengisi rongga kepala., karena benda itu juga ada pada hewan, dan sering menjadi menu utama kita di restoran Padang …
Meskipun akal sering dikaitkan dengan keberadaan otak, tapi substansi akal itu sendiri bersifat non-material. Ia merupakan satu-satunya ciri khas yang ada di manusia dan tidak ada pada hewan dan tumbuhan. Akal membuat kita sadar akan keberadaan diri kita sendiri. Ia meyakinkan kita bahwa kita ADA, kita APA, kita DIMANA, kita BAGAIMANA … dan seterusnya.
Bahkan dengan akal inilah kita mampu berpikir dan menjadi makhluk yang mampu mendominasi planet bumi. Kita bisa mengolah kehidupan dan sumber daya alam di sekitar kita sedemikian rupa, sehingga kita tidak perlu bersusah payah untuk mememenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Besi jadi robot, energi di alam dikonversi menjadi listrik, partikel diubah menjadi frekuensi yang bisa mentransfer pesan untuk makhluk yang bernama spesies homo sapiens ini.
Selain memiliki kecerdasan, manusia juga punya suatu kesadaran lain. Yakni kesadaran yang mampu mengantarkan pikirannya untuk mengetahui apa-apa yang belum bisa dipahaminya. Dalam suatu kondisi, ia akan merenung dan menerawangi makna-makna keberadaannya di planet bumi, seperti … dari mana saya sebenarnya? Kenapa saya ada di sini? Kapan saya ada di sini? Siapakah yang membawa kita ke sini? Mengapa manusia mati? Dan kalau sudah mati, ke alam mana lagi kita akan pergi? Ataukah hanya sebatas itu saja kehidupan ini …? Dan sederetan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Semuanya perlu terjawab agar bisa memenuhi hasrat dan keinginantahuannya yang tidak terbatas …
Sungguh salah orang yang mengatakan akal kita terbatas, karena pada dasarnya, akal kita tidak memiliki batasan dalam berpikir. Tapi hanya saja, ilmu pengetahuan yang kita peroleh dari alam materi inilah yang membentengi kemampuan kita berpikir.
Pada tahap ini, manusia akan bertanya pada dirinya, apakah hekekat saya sebagai manusia ini?Benarkah saya hanya sekantong unsur-unsur material yang ada di alam–seperti zat kapur, zat besi, protein dan lain sebagainya–yang muncul secara tidak sengaja; sama seperti seluruh jagad semesta yang luas ini … Ataukah saya hanya memakai sebuah baju, alias tubuh, yang yang terdiri dari berbagai unsur seperti yang disebutkan itu.
Intinya, siapakah saya dan bukan apakah saya?
Disinilah manusia harus kembali atau taubat secara hakiki, dan bukan sekedar tobat dari perbuatan dosa yang sering kumatan, atau gara-gara ketakutan dosanya akan menurunkan sial atas dirinya.
Persoalannya adalah: “kembali kepada siapa?” … Hal inilah yang seringkali menyebabkan manusia berakhir dengan beribu pertanyaan baru dikepalanya. Tidak jarang, pertanyaan “kembali kepada siapa” ini menyulut perselisihan dan pemusuhan antar sesama spesies homo sapiens.
Untuk itu, “kembali kepada siapa” bukanlah wewenang kita untuk memikirkannya, karena mustahil seandainya akal pikiran kita menyadari bahwa alam ini ada penciptanya, tapi pada saat yang sama, si Pencipta itu sendiri ngumpet sembunyi gak karuan manakala dicari oleh hamba-hambaNya …
Sebagai Pencipta yang seharusnya mewakili seluruh kesempurnaan, maka Dia juga seharusnya hanya menciptakan sesuatu untuk suatu tujuan yang kongkre dan jelas … Karena tidak ada Pencipta Mahasempurna, tapi membuat sesuatu secara sia-sia. Sebab, kesia-siaan itu tidak efisien, dan Yang Mahasempurna mustahil bersikap tidak efisien. Alasannya, ketidak-efisienan adalah sikap dari ketidaksempurnaan … go’it
Dengan demikian, sekali lagi bahwa sikap kembali atau taubat kepada sang Pencipta adalah act of the soul dan bukan act of the mind … alih-alih act of the body … Artinya, kita harus merasa cukup dulu atas keberadaan Tuhan sebagai Pencipta yang Mahasempurna … dan dari kesadaran itu, kita tinggal bersimpuh sujud keharibaanNya dan memohon petunjukNya seperti apa yang Dia kehendaki dan bukan seperti apa yang kita kehendaki …
Untuk itu, lihatlah kebesaran Tuhan di alam material, tapi jangan mencari Dia di sana … dan lihatlah kebesaran Tuhan di dalam diri kita, tapi jangan mencari Tuhan di sana, karena diri kita hanya bukti dari kebesaranNya saja …
Kembalilah kepada Tuhan melalui suatu jalan yang memang Dia menghendakinya seperti itu… Memang benar banyak jalan menuju Tuhan, tapi tidak semua jalan mampu mengantarkan kita kepadaNya. Alasannya, ada jalan-jalan yang terbuka dan ada juga jalan-jalan yang buntu, ambilah pelajaran dari alam material ini…
Pepatah mengatakan:
Auman singa tidak membunuh rencana,
Mengobrol tidak membuat nasi matang,
Peganglah tali kendali dan tali itu akan menunjukkan keledainya
Seorang bermata satu tidak berterima kasih kepada Tuhan
sebelum ia melihat orang buta
Kata kunci taubat atau kembali kepada Tuhan adalah usaha konsisten … terutama agar seseorang itu bisa berjalan di atas Permadani Tuhan yang dipersiapkan bagi hamba-hambaNya … So, jangan merajut sendiri Permadani Tuhan yang panjang itu, karena kita pasti akan putus asa sebelum bisa menyelesaikannya …
Sudah paham? Merenung lagi yaa kalau belum …
*Berteriak* Neeext!

baguslah, setengah sufi setengah rahasia, setengan intel setengah politik, setengah lucu, setengah setengah, di tengah tengah dan bingung deh……..apa hubungannya assassin dengan in semua…………..capec dech…..
Setengah rahasia …
Setengah politik …
Setengah intel …
Setengah lucu …
Setengah bingung …
Setengah sufi …
Semuanya setengah-setengah …
Itulah Hasyasyiyyun …
Biarin dech …
bang Altaïr said:
“Tujuanya supaya memudahkan seorang assassin mengoperasikan senjata tersebut di momen yang tepat. Untuk itu, jari tengah para assassin terpaksa diputuskan, sehingga dijamin, pasti akan sulit…”
Bukannya yang diputus itu jari manis (ring finger) bang? paling tidak begitu kata Assassin’s Creed Wiki di http://assassinscreed.wikia.com/wiki/Weapons
“…extends between his middle and little fingers through the space left by his amputated ring finger. This amputation was part of the initiation for becoming an assassin of the Hashshashin sect.”
Tuh saya cuplik dikit.
Hehehe sedikit koreksi aja, jangan tersinggung, apalagi sampe ngasasinasi saya. Ampunnnn…. ^_^
manis? gula kali …? enggak ah … rada asin-asin gitu deh … hahaha …
Qatar saya build up he he he …
Thanks anyway …